MENJADI KARTINI, BUKAN SEKEDAR PERAN

KARTINI meyakini kaum perempuan yang pertama kali memikul kewajiban sebagai pendidik. Seorang perempuan akan menjadi seorang ibu yang akan menjadi pusat kehidupan rumah tangga. Seorang ibu, menurut Kartini, dibebankan tugas besar untuk mendidik anak-anaknya dan membentuk budi pekertinya. Dengan demikian, anak perempuan harus mengenyam pendidikan yang baik pula agar kelak bisa menjalani tugas dalam mendidik anak- anaknya. Dia menyadari betul bahwa mendidik bukan hanya sekadar membuat seseorang menjadi pintar. Ilmu pengetahuan dan intelektualitas seseorang tidak akan berarti apa-apa tanpa diimbangi dengan watak budi pekerti yang baik. Dan itu hanya bisa didapatkan melalui pendidikan dari seorang ibu dalam sebuah keluarga. Perempuanlah, kaum ibu yang pertama-tama meletakkan bibit kebaikan dan kejahatan dalam hati sanubari manusia, yang biasanya terkenang dalam hidupnya.

 

Kartini mengungkapkan hal tersebut dalam suratnya kepada Nyonya Ovink-Soer pada awal tahun 1900, berikut;

Siapa yang paling banyak berbuat untuk yang terakhir, yang paling banyak membantu mempertinggi kadar budi manusia? Wanita, ibu. Karena manusia pertama-tama menerima pendidikan dari seorang perempuan. Dari tangan perempuanlah, anak-anak mulai belajar merasa, berpikir, dan berbicara. Didikan pertama kali itu bukan tanpa arti bagi seluruh penghidupan” (RA Kartini, 2017:51).

Seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim, beliau menyampaikan, “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Artinya: Ibu merupakan madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya. Berdasar pernyataan tersebut kita boleh saja berargumen, jika ingin memperbaiki dan memajukan bangsa ini, maka majukan dulu perempuan bangsa ini.

 

Kartini melihat perempuan bukan sekedar seorang ibu, mereka juga adalah pembawa peradaban. Baginya, tidak akan maju sebuah bangsa apabila kaum perempuannya tidak berpendidikan. Alih-alih sebagai pesaing, perempuan adalah pendukung bagi laki-laki, mereka bersama-sama dapat membangun sebuah bangsa yang besar. Kartini dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon tanggal 21 Januari 1901 memberikan pernyataan berikut:

 

“…Perempuan sebagai pendukung peradaban! Bukan, bukan karena perempuan yang dianggap cakap untuk itu, melainkan saya sendiri juga yakin sungguh-sungguh, bahwa dari perempuan mungkin akan timbul pengaruh besar, yang baik atau buruk akan berakibat besar bagi kehidupan: bahwa dialah yang paling banyak dapat membantu meningkatkan kadar kesusilaan manusia” (R.A. Kartini, 2017:112).

 

Kartini melihat perempuan mempunyai potensi dan pengaruh besar terhadap kehidupan. Satu sisi perempuan dapat memajukan kesusilaan manusia, disisi lain dapat pula menjatuhkannya. Konsekuensinya adalah perempuan berpengaruh besar, baik dalam hal yang baik maupun yang buruk. Pengaruh kebaikan ini hanya terjadi bila perempuan bangsa ini berpendidikan, inilah yang diperjuangkan oleh Kartini.

 

Jika dulu Kartini harus berjuang untuk mendapatkan akses dan kesempatan memperoleh pendidikan, maka berbeda dengan perempuan masa kini dengan akses, peluang dan kemudahan yang berlimpah. Jika dulu Kartini harus melawan kekolotan adat, tradisi, sistem sosial dan kehidupan feodal di eranya, maka tidak demikian dengan perempuan masa kini. Perjuangan perempuan Indonesia tidak lantas berakhir dan berhenti seketika saat Kartini berhasil membuat perempuan memiliki kesetaraan dan keadilan yang sama dengan laki-laki khususnya dalam bidang pendidikan. Semoga pemikiran dan jiwa Kartini masih dan selalu hidup dalam diri para perempuan Indonesia hingga kapanpun.

 

Untuk mewujudkan emansipasi, perempuan harus tetap terus berjuang karena akan selalu ada tantangan dengan kadar dan bentuk yang berbeda di setiap eranya. Tugas Kartini masa kini jangan kalah dan tidak boleh kendor dari pejuang sebelumnya. Berkiprah dalam berbagai bidang sesuai dengan passion-nya, memperluas cakupan perjuangan isu-isu hak perempuan, berkontribusi untuk kemaslahatan dan yang paling minimal adalah melanjutkan perjuangan hak-hak yang telah diraih dan mempertahankannya sampai dirasakan oleh generasi masa depan.

 

Menjadi Kartini yang sesungguhnya, mungkin kita perlu untuk menengok kembali sejarah Kartini, mencoba menemukan bagaimana Kartini menjadi perempuan yang berbeda dan istimewa. Pertama, Kartini kecil sempat mendapat dua julukan, yaitu ‘Trinil’ dan ‘Jaran Kore’. Sang Ayah, RM Sosroningrat memberikan julukan ‘Trinil” tentu bukan tanpa sebab. Kartini kecil ternyata merupakan anak yang aktif dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Trinil merupakan nama burung kicau yang badannya kecil namun gerakannya lincah. Selain dipanggil Trinil, Kartini juga sering dipanggil ‘Jaran Kore‘ (Kuda Liar) oleh para saudaranya yang lain karena pembawaannya yang tak bisa diam, seperti Perempuan Jawa pada umumnya.

 

Julukan Kartini kecil mengajarkan kita bagaimana seharusnya perempuan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, aktif bergerak dan mencari jawaban atas setiap keingintahuan itu, lincah dan cepat dalam mengambil setiap peluang di depan mata. Mungkin akan terkesan menjadi anak atau remaja yang melawan kebiasaan dan sopan santun, tapi sesungguhnya dari kartini kita belajar jadilah anak yang bebas, ikutilah imajinasi (rasa ingin tahu). Einstein pernah mengatakan,

Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Karena pengetahuan terbatas pada semua yang kita tahu dan mengerti, sementara imajinasi meliputi seluruh dunia, dan semua hal yang akan bisa diketahui dan dimengerti.” (Albert Einstein)

Rasa ingin tahu inilah yang membimbing Kartini kecil tumbuh menjadi perempuan yang kritis dan jujur melihat fenomena atau masalah yang ditemui. Seperti bagaimana di pendopo kabupaten harus ada dua ibu dan mengapa ibu Mas Ajeng Ngasirah harus tinggal di luar rumah besar (bangunan utama pendopo) dan harus tinggal di rumah kecil bersama dengan para abdi. Atau, mengapa Mas Ajeng Ngasirah harus menggunakan krama inggil jika berbicara dengannya dan saudara- saudaranya, atau harus berjalan jongkok manakala berhadapan dengan anak-anak Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, termasuk dirinya (RA Kartini) sebagai anak kandungnya.

 

Pelajaran kedua dari Kartini adalah kegigihannya dalam memperjuangkan apa yang menjadi tujuannya serta memanfaatkan semua kesempatan dengan baik dan bijaksana. Sebagai keturunan bangsawan, Kartini memanfaatkan kesempatannya dengan baik untuk menjajaki pendidikan formal di Europese Lagere School (ELS). Karena ketika itu baik laki-laki ataupun perempuan yang bukan keturunan bangsawan, sangat sulit untuk mendapatkan pendidikan formal. Apalagi posisi perempuan kala itu, yang secara tradisi, kebanyakan dari mereka harus tinggal di rumah (dipingit) dan dinikahkan di usia yang cukup muda. Hal tersebut juga dirasakan oleh Kartini. Meskipun Kartini tidak dapat menyelesaikan pendidikan dasarnya di ELS karena harus dipingit, kegigihannya untuk terus menuntut ilmu tidaklah surut. Ibu Kartini justru tidak berhenti berjuang. Kartini sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Sayangnya, tidak mendapatkan restu dari pihak keluarga. Meski begitu, tekadnya untuk memperjuangkan hak perempuan semakin berkesungguhan. Akhirnya, pihak keluarga mempersilahkan Kartini untuk berkiprah di dunia pendidikan dengan berperan sebagai guru serta mendirikan sekolah. Sekolah pertama yang didirikan Kartini tersebut dibangun di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor pemerintahan Kabupaten Rembang ketika itu. Sekolah tersebut dinamai Sekolah Kartini, sekolah yang diperuntukkan kaum perempuan.

 

Ketiga, Kartini paham betul untuk mewujudkan mimpinya hubungan pertemanan dan relasi akan sangat membantunya. Meski batal menuntut ilmu di Belanda, Kartini tetap bisa menjalin komunikasi dengan teman-temannya di sana. Salah satunya adalah Estelle Zeehandelaar, perempuan Belanda yang menjadi sahabat pena Kartini. Pada 25 Mei 1899 Kartini mulai mengirim surat kepadanya yang berisikan curahan hati soal kegalauan dan gagasannya terkait budaya Jawa, penjajahan, pendidikan perempuan, dan keinginannya belajar di Belanda. Kepada Stella, perempuan ningrat Jawa ini tak ragu menyatakan pikiran ‘liarnya’. Sebagai teman curhat, Stella adalah sosok feminis yang menginspirasi. Stella rajin menulis untuk jurnal- jurnal perempuan. Ia juga menulis novel feminis Hilda van Suyerberg di De Lelie yang kemudian laris di pasaran. Tak disangka, novel itu telah berkali-kali dibaca Kartini sebelum mengenal Stella. Masih banyak sahabat lain dan keluarga yang turut mendukung perjuangan kartini.

 

Semoga apa yang telah dipaparkan di atas dapat menjadi inspirasi, motivasi dan alternatif bagaimana perempuan Indonesia sanggup menjadi Kartini yang tidak hanya sekedar menjalankan perannya sebagai perempuan. Bila kita mau, pasti kita mampu dan masih banyak hal dari Kartini yang dapat kita ambil dan kita petik hikmahnya dalam kehidupan. Maju terus perempuan Indonesia, maju terus bangsa dan negaraku.

 

Penulis : Wawan Wibisono

Editor : Andhika

Bagikan Informasi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top